Home / Berita / Seminar Informasi Aktual “Media Massa VS Media Sosial”

Seminar Informasi Aktual “Media Massa VS Media Sosial”

media-massaBiro Humas dan Keprotokolan Setda Provsu menyelenggarakan seminar informasi aktual “Media Massa Vs Media Sosial”, yang digelar di Hotel Four Point by Sheraton, Medan, Jumat (27/10/2017). Hadir dalam kegiatan tersebut Kabiro Humas dan Keprotokolan Ilyas Sitorus dan para narasumber sekaligus pemateri, Ketua Dewan Pers Indonesia Yosep Adil Prasetyo, Dosen Pasca Sarjana UI Dr.Irwansy,Ssos,MA, pengamat media J. Anto, Mahasiswa, Bakohumas Se-Sumut, organisasi media, dan wartawan.

Gubernur Sumatera Utara (Sumut) DR. Ir. H .Tengku Erry Nuradi, M.Si secara resmi membuka seminar informasi aktual “Media Massa VS Media Sosial”.  Dalam sambutannya, beliau mengatakan kemerdekaan Bangsa Indonesia yang sudah berusia 72 tahun dari penjajahan adalah hasil penyemaian, penyebaran dan pengorbanan semangat kebangsaan oleh para pemimpin pergerakan indonesia yang didukung penuh oleh media massa.

Di bidang media massa, memang banyak pihak yang risau dengan sajian media massa  akhir-akhir ini yang ditengarai sebagai bukti kemerosotan nasionalisme dan karakter bangsa Indonesia akibat kebebasan pers yang hampir  tanpa batas. Media massa perlu diawasi dan diingatkan untuk mematuhi aturan UU dan kode etik. Saat ini kita dituntut menerapkan good governance,  media juga harus good media. Pemilik dan pengelola media massa dan wartawan harus memiliki dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila,” ujar Gubsu.

Sementara itu Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang paling banyak memiliki media massa. Setidaknya saat ini ada sebanyak 2000 media cetak, namun hanya 321 media cetak yang memenuhi syarat dan disebut profesional. Bahkan media online di Indonesia jumlahnya sebanyak 43.300, tapi yang tercatat sebagai media profesional hanya 168 media online saja. Kondisi ini cukup memprihatinkan karena banyaknya media atau wartawan yang disebut abal-abal karena tidak didasari profesionalisme. Perbedaan antara media massa dan media sosial terdapat dalam berbagai aspek. Produk pers berisi berita dan sedangkan media sosial berupa informasi. Lanjutnya produk pers tentu memiliki batasan-batasan sesuai dengan kode etik jurnalistik sedangkan informasi dari sosial media tidak ada batasan. Sedangkan identitas produk pers melalui media massa cetak dan eletkronis berbadan hukum serta adanya penanggung jawab dengan alamat yang jelas. Sedangkan identitas medsos bisa dipalsukan, dan sumber informasi yang digunakan bisa resmi, bisa jelas sumbernya dan bisa hasil rekayasa.

Pada kesempatan yang sama narasumber J.Anto menyampaikan bahwa kemajuan teknologi komunikasi dan informasi memang telah membawa banyak berkah sekaligus memunculkan tantangan, terutama bagi media konvensional seperti cetak, radio dan televisi. Dalam hal pilihan informasi yang dibutuhkan, masyarakat kini memiliki akses terhadap sumber informasi yang seolah tak terbatas. Situs-situs online terus bermunculan menawarkan ragam kebutuhan informasi masyarakat. Kemajuan teknologi komunikasi menjadikan sarana produksi komunikasi yang sebelumnya dikuasai pengelola media massa, menjadi milik masyarakat. Masyarakat kini banyak yang jadi produsen, editor sekaligus distributor informasi. Media massa mempunyai peran dan kontribusi besar bagi pembentukan karakter bangsa yaitu jujur, suka menolong, menjunjung tinggi kebenaran, menegakkan keadilan dan bertanggungjawab.

Dengan seminar ini diharapkan dari berbagai pihak termasuk media massa dan masyarakat turut serta dalam mewujudkan good governance. Selain itu, pelaksanaan seminar ini diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme media massa khususnya di Sumatera Utara.  (marta)

Tags: , , , ,

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment